Oshima-san wa Kato-san to Arigatou Gozaimasu

    Ketika 13 th lalu. Saya melahirkan anak pertama di Chiba Daigaku Byouin, sebuah rumah sakit milik universitas Chiba. Saat itu saya berkenalan dengan teman sekamar. Sebelum bercerita tentang teman sekamar ini, saya akan bercerita tentang suasana kamarnya dulu. Satu kamar berisi delapan tempat tidur yang saat itu terisi penuh. Susunannya empat-empat berhadapan. Setiap ruang tidur difasilitasi sebuah meja multifungsi, atasnya meja, bawahnya lemari. Dan, ditemani satu buah televisi. Jadi total di kamar itu ada delapan tempat tidur, delapan meja/lemari, dan delapan TV. Antara ruang tidur disekat gorden tebal.
"Ohayou gozaimasu...(selamat pagi)!" sapa seorang teman yang menghuni tempat tidur sebelah, seraya menganggukkan kepala.
"Ohayou..." balasku dengan anggukan juga.
            Pagi itu dia mengajak saya sarapan. Lalu, kami beramai-ramai menuju ruang makan. Di rumah sakit itu disediakan ruang makan khusus, jadi makanan tidak diantar ke kamar. Kecuali untuk orang yang melahirkan Caesar.
Saya duduk satu meja dengan orang itu dan dengan satu teman lagi. Di sela-sela makan kami berkenalan. Yang menyapa di kamar bernama Oshima yang satunya lagi bernama Kato.
"Nancy-san berasal dari mana?" tanya Oshima.
“Dari Indonesia."
"Melahirkan anak ke berapa?"
"Anak pertama."
"Oo... yang tadi malam melahirkan setelah saya, yang memanggil mama...mama...," sambung Kato sambil tertawa.
"Iya betul!" jawab saya cepat.
Hihiii… jadi maluuu…
Seminggu saya dirawat di rumah sakit. Hah! Lama amat! Apa saya ada masalah? Bukan, bukan begitu… Itu sudah menjadi peraturan di Jepang. Melahirkan anak pertama seminggu, anak kedua lima hari, operasi caesar sepuluh hari.
Kenapa, kok, lama, ya?
Menurut ketentuan rumah sakit, seorang ibu yang melahirkan  harus betul-betul sehat dan siap saat pulang ke rumah, karena sampai di rumah nanti mereka dituntut untuk mengerjakan semuanya sendiri. Mulai dari merawat bayi sampai ke urusan rumah tangga. Maklum karena mereka tidak terbiasa dibantu asisten. Asisten rumah tangga mahalll! Itu pun kalau ada.
             Setelah beberapa hari kami selalu bersama-sama. Kini, tibalah jadwal mandi. Pada heran kan, kenapa setelah lima hari baru boleh mandi? Hehehe… Kebayang, kalau di Indonesia lima hari enggak mandi, hiiihh badan pasti lengket-lengket. Nah, untung saja saat itu di Jepang lagi musim dingin jadi enggak mandi lima hari enggak jadi masalah… Nah, kenapa lima hari? Enggak tahu… karena itu sudah peraturan dari rumah sakit.  Alasannya, mungkin karena hari kelima badan sudah benar-benar fit dan siap.
Oshima memberi tahu saya bahwa hari itu saya sudah boleh mandi. "Nancy-san, hari ini Nancy-san sudah boleh mandi.”
"Oh, terima kasih," jawab saya.
"Sebelum mandi, Nancy-san harus mengisi kertas yang ditempel di pintu itu," ucapnya sambil menunjuk pintu keluar. "Di situ ada nama-nama siapa saja yang akan mandi. Mandinya bergatian sesuai nomor urut, ya. Nanti Nancy-san akan dipanggil oleh orang yang nomor urutnya di atas Nancy-san. Kalau sudah selesai, Nancy-san harus memanggil  orang yang nomor urutnya di bawah Nancy-san. Mengerti?"
Waduh, ribet amat, ya, aturannya. Tapi…ya mau enggak mau saya harus patuhi aturannya.
"Iya, saya mengerti."
            Aturan ini diberlakukan karena jumlah kamar mandinya terbatas. Satu kamar mandi dipakai untuk dua kamar tidur.
Sebelum sampai ke urutan saya, saya sempat bingung… Kalau saya harus memanggil orang yang nomor urutnya di bawah saya berarti saya harus tahu namanya… sementara nama meraka, kan, ditulis pake kanji. Beruntung kalau kebetulan kanjinya bisa saya baca. Kalau enggak, ribet jadinya… Di saat saya bingung, tiba-tiba Oshima dan Kato menghampiri.
"Nancy-san, tadi kami sempat mikir, takut Nancy-san kesulitan jadi nama Nancy-san saya tulis diantara nama saya dan nama Kato-san," kata Oshima. "Nanti setelah Kato-san selasai dia akan memanggil Nancy-san. Kalau Nancy-san sudah selesai, nanti panggil saya ya!" lanjut Oshima.
Alhamdulillaaah... saya bernapas lega. "Terima kasih, terima kasih, Oshima-san, Kato-san," jawab saya sambil membungkuk. Akhirnya saya mengelus dada. Saya bisa mandi dengan tanang. Hahaha…
              Hari itu, siangnya setelah makan siang Oshima diperbolehkan pulang karena dia melahirkan anak kedua. Kami bersalaman sambil tak lupa mengucapkan terima.
            “Sayonara, Nancy-san,” kata Kato.
            “Sayonara…”
Sorenya, selesai makan, Kato pun pulang. Kato juga melahirkan anak kedua.
Kami sempat ngobrol berdua saat makan. "Kenapa Kato-san pulangnya sore?"  
"Menunggu suami pulang kerja," jawabnya. "Semoga kita bisa ketemu lagi ya..."

Sorenya Kato berpamitan.  "Ja mata ne...(sampai bertemu lagi) Nancy-san..."

           "Mata ne...Kato-san... Sayonara..."

Uhuk… uhuk… sedih juga berpisah sama mereka.


 Arigatou... Oshima-san,  arigatou... Kato-san.  Kebaikan kalian tak kan terlupakan.

Cerita ini ditulis saat negara kalian tertimpa tsunami besar. Semoga kalian dilindungi oleh yang Maha Kuasa.
Cmi, 11 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aneka warna>>>>>>aneka warna>>>>>aneka warna>>>>>>aneka warna>>>>>aneka warna